Beranda / Potensi Desa / Kualitas Terbaik yang Semakin Menipis
Kualitas Terbaik yang Semakin Menipis
Kamis 11 Mei 2017

Manggung - Kondisi desa yang berada di dataran rendah dengan lingkungan kering membuat Desa Manggung memiliki sarana transportasi yang baik untuk mobilitas warganya. Berada di wilayah yang dipenuhi dengan keberadaan pengrajin kayu, tidak heran jika di Desa Manggung Kecamatan Ngemplak Boyolali, kita akan menemui banyak penjual kayu gelondongan. Penjual bahan baku mebel ini tidak hanya menyediakan bahan untuk pengrajin yang berada di wilayah Manggung, melainkan menjadi penyuplai bahan baku kayu diluar Manggung.

Salah satu pengusaha kayu di Desa Manggung adalah Wawan Ari Wibowo. Pria tiga puluh lima tahun ini telah menjadi penjual kayu secara turun temurun. Wawan merupakan generasi ketiga dari usaha kayu tersebut. “Alasannya yak arena ingin meneruskan usaha bapak. Kakek dulu juga jadi pengusaha kayu.” Ungkap Wawan.

Saat ini ayah dari tiga anak ini memiliki dua lapak penjualan kayu. Wawan merasa cukup dengan kondisinya saat ini karena menipisnya persediaan kayu. “Sekarang ini kayu lama-lama habis, karena ditebang terus-menerus.” Ungkap wawan

Hal lain yang menjadi kendala bagi penjual kayu gelondong adalah berkurangnya jumlah kayu. Hal ini mengakibatkan semakin sedikitnya stok kayu. Beberapa kasus penipuan juga pernah terjadi. Namun, hal ini tidak membuat wawan kapok dan tetap berjuang dengan usaha kayu gelondongnya. Dalam menjalankan usaha ini wawan dibantu oleh kedua karyawan yang bertugas untuk menaikkan kayu ke atas mobil pick up. Wawan biasanya memberikan upah sebesar satu juta rupiah.

Harga kayu yang dijual Wawan cukup bervariasi, tergantung pada kualitas dan ukuran kayu yang dijual. Untuk kayu kualitas A1 dijual dengan harga 2,5 juta rupiah per kubik, kayu A2 dijual dengan harga 4,5 juta rupiah, sedangkan untuk A3 harga kayu mencapai 5,7 juta rupiah per kubik. Usia kayu juga mempengaruhi kualitas kayu. Semakin tua usia suatu kayu, makan semakin mahal pula harganya. Keuntungan perkubiknya mencapai Rp. 300.000,-  hingga 1 juta rupiah. Omzet yang diperoleh dari usaha penjualan kayu gelondong tersebut mencapai 20 juta  hingga 100 juta rupiah per bulan. Dengan pendapatan tertinggi, keuntungan yang ddidapatkan mencapai 8 juta hingga 10 juta per bulan.

Kayu gelondong tersebut biasanya dipasarkan ke Yogyakarta dan Semarang, meskipun untuk saat ini pembeli masih didominasi oleh pelanggan lokal. Untuk menjaga kualitas kayu, pria usia 35 tahun ini mengatakan bahwa ia lebih senang turun sendiri ke lapangan untuk memilih kayu secara langsung.

Potensi Desa LAINNYA
Si Juara Dari Manggung
Kamis 11 Mei 2017
Koperasi Asa Pemotong Kayu
Kamis 11 Mei 2017
Pengusaha Berjiwa Motivator
Kamis 11 Mei 2017